Pertamina: Cilacap Jadi Contoh Kilang Terintegrasi bersama Transisi Energi

Pertamina: Cilacap Jadi Contoh Kilang Terintegrasi bersama Transisi Energi

PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menyebut kilang Cilacap merupakan semisal kilang terintegrasi yang seiring bersama transisi energi.

Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, menjelaskan, lingkup kilang Cilacap terdiri atas, yang pertama existing, diantaranya Kilang RU IV Cilacap terdiri atas 2 Kilang FOC I & IIkapasitas Total 348 KBPD,Kilang Petrokimia terdiri atas Paraxylene, Benzene, dan Propylene (dari RFCC), Lube Base Oil Group I untuk supply feedstock PTPl, dan Green Refinery Phase 1 Kap. 3 KBPD HVO / 9 KBPD SAF 2,4 persen.

Kedua, pengembangan, terdiri atas Diesel Hydro Treating (DHT)Untuk compliance Diesel min 50 ppm, Green Refinery Phase 2Kap. 6 KBPD HVO dan SAF 100 persen, Lube Base Oil Group III/III+ World Class dan High End Lube Base

Lingkup ketiga yakni, eksternal rtp live terdiri dari listrik Grid (21 MW), PLTS Solar Cell (2,6 MWp), Suplai Air PDAM (650 m3/hr), dan pelestarian Mangrove.

Selain itu, Green Refinery Cilacap termasuk disebut sebagai inisiatif Bisnis Ramah Lingkungan KPI.

“Pertamina kala ini telah memiliki layanan untuk produksi Bio-Jet Fuel dan Green Diesel Product di Kilang Cilacap,” kata Taufik dikutip di dalam paparan Pertamina di Yoggyakarta, Sabtu (16/12/2023).

Adapun Bio-Jet Fuel/SAF kala ini diproduksi bersama langkah Co-Processing, yakni bahan baku nabati diproses bersama dicampur terhadap exsistin proses, sedangkan Green Diesel/HVO telah dapat diproduksi bersama Standalone Process, yakni bahan baku nabati diproses 100 persen atau semuanya sebagai feedstock.

Untuk Bio-Jet Fuel/SAF, telah dijalankan fligt test bersama pesawat CN 235 terhadap Oktober 2021, dan terhadap Oktober 2023 termasuk telah dijalankan flight test dan first commercial flight bersama Garuda Indonesia.

Sementara, untuk product Green diesel/HVO telah dipasarkan ke domestik yakni renewable fuel di Formula E, dan di acara EWTG G20. Pertamina termasuk memasarkan secara ekspor untuk pasar Eropa terhadap 2022.

  • Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk beroleh berita-berita terkini bersama mengklik tautan ini.

Sebelumnya, mengemban amanah menyalurkan energi, Pertamina Patra Niaga menjamin kesiapan infrastruktur untuk semua produknya, tidak kecuali product terakhir yang kala ini di dalam pengembangan yakni Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Meski masih di dalam tahapan urutan uji coba, Pertamina Patra Niaga berkomitmen untuk membantu penuh pengembangan bahan bakar SAF yang merupakan kolaborasi antara Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Kementerian Perhubungan, ITB, APROBI, BPDPKS, LEMIGAS, BRIN, Garuda Indonesia dan Garuda Maintenance Facility, dan juga Pertamina Group yakni Pertamina melalui Research & Technology Innovation (RTI), Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan Pertamina Patra Niaga.

“Bertanggung jawab di segi hilir, kami tetap buat persiapan sarfas dan kompetensi tim Pertamina Patra Niaga untuk menyalurkan SAF sebagai inovasi bahan bakar aviasi yang lebih baik bagi industri penerbangan,” mengetahui Direktur Pemasaran Pusat & Niaga, Maya Kusmaya.

Komitmen awal dukungan Pertamina Patra Niaga ini dijalankan melalui penerimaan lebih kurang 80 ribu liter di Soekarno Hatta Aviation Fuel Terminal & Hydrant Installation (SHAFTHI) dari Cilacap.

Target awal, SAF yang diterima ini akan digunakan untuk urutan tes, yang terakhir adalah untuk kebutuhan static test yang dijalankan terhadap mesin jet CFM56-7B yang biasa digunakan terhadap pesawat komersil di layanan Test Cell milik GMF Aeroasia sebesar 25 ribu liter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *